
VISI DARI OSIS NESACI TASIKMALAYA ADALAH SEBAGAI BERIKUT :
* Menjunjung tinggi sikap yang jujur
* Menjadikan perbedaan menjadi suatu kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan
* Menciptakan suasana aman dan tentram
DAN ADAPULA MISINYA, SEBAGAI BERIKUT :
Mewujudkan misi 1SMP NEGERI 1 CIAWI menjadi sekolah yang berkualitas dan bermutu, dan menjadikan siswa-siswi di sekolah ini yang beakhlaqul_qarimah.
PROGRAM-PROGRAM OSIS NESACI TASIKMALAYA 2008/2009 :
*Program perharian
-Mengadakan pengajian Al-Qur'an
-Menjaga pengajian perkelas
-Menjaga siswa yang kesiangan
-Mengadakan siaran radio pendidikan
-Memakai pakaian seragam lengkap dan rapi
-Mengadakan Infak
*Program perminggu
-Mempersiapkan peralatan upacara
-Mengganti petugas upacara
-Mengadakan razia
-Mengadakan penialian kebersihan kelas
* Menjunjung tinggi sikap yang jujur
* Menjadikan perbedaan menjadi suatu kebersamaan, keselarasan dan keseimbangan
* Menciptakan suasana aman dan tentram
DAN ADAPULA MISINYA, SEBAGAI BERIKUT :
Mewujudkan misi 1SMP NEGERI 1 CIAWI menjadi sekolah yang berkualitas dan bermutu, dan menjadikan siswa-siswi di sekolah ini yang beakhlaqul_qarimah.
PROGRAM-PROGRAM OSIS NESACI TASIKMALAYA 2008/2009 :
*Program perharian
-Mengadakan pengajian Al-Qur'an
-Menjaga pengajian perkelas
-Menjaga siswa yang kesiangan
-Mengadakan siaran radio pendidikan
-Memakai pakaian seragam lengkap dan rapi
-Mengadakan Infak
*Program perminggu
-Mempersiapkan peralatan upacara
-Mengganti petugas upacara
-Mengadakan razia
-Mengadakan penialian kebersihan kelas
Pelangi Di Kamarku
Sarah sekarang duduk di kelas V SD. Ia tinggal bersama Ayah, Ibu, dan MbakSul, pembantunya yang mempunyai anak perempuan kecil.
Sarah adalah anak tunggal. Tidak punya kakak, tidak punya adik juga. Itu sebabnya, ketika Mbak Sul membawa anaknya yang baru berumur tiga tahun, Sarah, Ayah, dan Ibu tidak keberatan. Mereka justru sangat senang pada Tika, anak Mbak Sul itu. Terutama Sarah. Ia jadi mempunyai teman bermain di rumah.
Tidak seperti biasa, sore itu Sarah kesal sekali. Tika masuk ke kemarnya tanpa permisi. Memang selama ini Sarah tidak pernah mengunci kamarnya, meski sekolah seharian dari pagi hingga sore.
“Tika kan, masih kecil, Sarah. Umurnya saja baru tiga tahun. Setiap Jum’at malam, kamu juga selalu ajak dia tidur di kamarmu, kan?” Ujar ayah sambil lalu, setelah mendengar keluh– kesah Sarah.
“Iya, Ayah. Tapi itu kan beda. Kali ini dia enggak izin ke aku dulu.”
“Oke, Tika memang salah. Tapi kamu maafkan donk! Tika kan, sekolah saja belum, “ kata ayah lagi. “ Ayahmu benar. Sudahlah, jangan terlalu kesal begitu “ bu ikut nimbrung.
“ Tapi, kita keterlaluan nakalnya. Coba ayah dan ibu liat kamarku sekarang! “ ujar Sarah sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya. Ayah dan ibu masuk, memandangi seluruh penjuru kamar. Tapi tidak menemui penyebab kekesalan sarah.
“ Ayah dan ibu lihat baik-baik donk, dinding diatas meja belajarku! “ kata Sarah sambil menunjuk coretan crayon berupa lengkungan warna-warni. “hmmmm,Ayah kira ituhasil karyamu, “ayah tersenyum menggoda.
“ Ibu juga berpikir begitu. Berarti bagus juga ya, goresan tangan Tika. Bagaimana kalau dia ikut kursus melukis bareng kamu?”
Sarah makin merengut. Ayah dan ibu,kok malah membela tika? Jangan-jangan mereka lebih sayang Tika dibandingkan dirinya.
“ Bukan membela. Tapi coretan itu enggek bikin kamu jadi berantakan lagi,kan?”
Tanya ibu meyakinkan’ Sarah diam saja. Hatinya semakin dongkol. Sesudah makan malam, langsung masuk kamar. Ia mencoba melupakan coretan Tika yang cukup mencobanya terganggu. Mungkin karena selamanya ini ia tidak punya adik, kasih sayang Ayah, Ibu, jugaMbak Sul Cuma untuknya. Apapun yang dikatakan sarah, tidak pernah ada yang membantah. Tapi tadi sore, Ayah dan ibu jelas-jelas membela Tika.
Esoknya hari sabtu. Sarah libur sekolah. Ia membuka-buka halaman majalah, sambil sesekali mengintip ke dinding yang di coret-coret Tika. Lalu ia menghela nafas. Begitu berulang-ulang.
“ memang benar sih, coretan itu tidak menambah kamarku jadi jelek....! Tapi enggak tambah bagus juga.” gumam Sarah. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu kamarnya. “ Masuk, enggak dikunci.” “kak Sarah, tanganku belum sampai,” juga bunyi kakinya yang melompat-lompat, mungkin berusaha menggapai gagang pintu. Dengan malas Sarah membukakan pintu untuk Tika. “ Kak Sarah besok libur, kan? Aku mau hapus coretan itu, pakai ini” sambil memperlihatkan crayon warna putih kepada Sarah.
Sarah menjawab beberapa pertanyaan Tika dengan anggukan saja. Ia tidak mengajak Tika masuk ke kamarnya. Padahal biasanya kalo esok hari libur, malamnya sarah mengajak Tika tidur bersama. Hati Sarah jengkel.
“Oh iya, Kak. Kata Ibu, aku musti minta maaf sama kakak. Maaf ya, kak.”
“Ada lagi?” tanya Sarah ketus.
“Enggak. Yang mau hapus pelangi itu kakak,kan?! Crayon putih ini buat kakak Sarah saja,” jawab Tika polos.
Malam itu, meski masih kesal, Sarah bisa juga tidur pulas. Keesokan paginya, begitu membuka pinu kamar, ia terkejut melihat mang Udin, ayah Tika.
“Kesianagan ya, Non?” sapa mang Udin
Mang Udin menjelaskan maksud kedatangannya yang mendadak pagi itu. Ia ditelepon Mbak Sul, istrinya, untuk segera menjemput Tika. Menurut laporan Mbak Sul, Tika sekarang nakal, hingga membuat Sarah terganggu. Makanya Tika akan dibawa pulang kekampung saja.
Mang Udin minta maaf atas ulah Tika, yang masuk kamar tanpa ijin dan mencoret- coret dinding.
“Mang sudah bawa cat, yang warnanya sama dengan cat kamar Non Sarah. Mudah- mudahan corat- coret Tika tidak terlihat lagi,” jelas Mang Udin.
“Pak Tika bukan corat-coret kamar kak Sarah.Tika kan, bikin pelangi yang bagus buat kak Sarah. Tapi kata Ibu, kak Sarah enggak sukapelangi Tika,” Dengan polos Tika menunjukan coretannya yang belum sempat dibersihkan.
Sarah malu sekali. Ia baru sadar, kalo Tika sebenarnya berniat baik. Membuat lukisan pelangi untuknya. Namun karena ia masih kecil, lukisan itu belum sempurna sehingga lebih mirip corean coretan saja.
“Maafkan kak Sarah, ya Tika, Mang Udin. Biar saja pelangi itu menjadi hiasan kamarku, enggak usah dihapus. Dan Tika juga enggak usah plang kampung. Sekarang kakak sudah enggak marah lagi, kok!” seru Sarah gembira. “oh iya, satu bulan lagi kan kenaikan kelas. Anggap saja aku naik kelas, dan pelangi itu hadiah untukku dari kamu, Tika. Makasih ya.”
Ayah, Ibu, Mbak Sul,dan Mang Udin tertawa lega. Tika ikut– ikutan tertawa juga.
Sarah sekarang duduk di kelas V SD. Ia tinggal bersama Ayah, Ibu, dan MbakSul, pembantunya yang mempunyai anak perempuan kecil.
Sarah adalah anak tunggal. Tidak punya kakak, tidak punya adik juga. Itu sebabnya, ketika Mbak Sul membawa anaknya yang baru berumur tiga tahun, Sarah, Ayah, dan Ibu tidak keberatan. Mereka justru sangat senang pada Tika, anak Mbak Sul itu. Terutama Sarah. Ia jadi mempunyai teman bermain di rumah.
Tidak seperti biasa, sore itu Sarah kesal sekali. Tika masuk ke kemarnya tanpa permisi. Memang selama ini Sarah tidak pernah mengunci kamarnya, meski sekolah seharian dari pagi hingga sore.
“Tika kan, masih kecil, Sarah. Umurnya saja baru tiga tahun. Setiap Jum’at malam, kamu juga selalu ajak dia tidur di kamarmu, kan?” Ujar ayah sambil lalu, setelah mendengar keluh– kesah Sarah.
“Iya, Ayah. Tapi itu kan beda. Kali ini dia enggak izin ke aku dulu.”
“Oke, Tika memang salah. Tapi kamu maafkan donk! Tika kan, sekolah saja belum, “ kata ayah lagi. “ Ayahmu benar. Sudahlah, jangan terlalu kesal begitu “ bu ikut nimbrung.
“ Tapi, kita keterlaluan nakalnya. Coba ayah dan ibu liat kamarku sekarang! “ ujar Sarah sambil membuka lebar-lebar pintu kamarnya. Ayah dan ibu masuk, memandangi seluruh penjuru kamar. Tapi tidak menemui penyebab kekesalan sarah.
“ Ayah dan ibu lihat baik-baik donk, dinding diatas meja belajarku! “ kata Sarah sambil menunjuk coretan crayon berupa lengkungan warna-warni. “hmmmm,Ayah kira ituhasil karyamu, “ayah tersenyum menggoda.
“ Ibu juga berpikir begitu. Berarti bagus juga ya, goresan tangan Tika. Bagaimana kalau dia ikut kursus melukis bareng kamu?”
Sarah makin merengut. Ayah dan ibu,kok malah membela tika? Jangan-jangan mereka lebih sayang Tika dibandingkan dirinya.
“ Bukan membela. Tapi coretan itu enggek bikin kamu jadi berantakan lagi,kan?”
Tanya ibu meyakinkan’ Sarah diam saja. Hatinya semakin dongkol. Sesudah makan malam, langsung masuk kamar. Ia mencoba melupakan coretan Tika yang cukup mencobanya terganggu. Mungkin karena selamanya ini ia tidak punya adik, kasih sayang Ayah, Ibu, jugaMbak Sul Cuma untuknya. Apapun yang dikatakan sarah, tidak pernah ada yang membantah. Tapi tadi sore, Ayah dan ibu jelas-jelas membela Tika.
Esoknya hari sabtu. Sarah libur sekolah. Ia membuka-buka halaman majalah, sambil sesekali mengintip ke dinding yang di coret-coret Tika. Lalu ia menghela nafas. Begitu berulang-ulang.
“ memang benar sih, coretan itu tidak menambah kamarku jadi jelek....! Tapi enggak tambah bagus juga.” gumam Sarah. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu kamarnya. “ Masuk, enggak dikunci.” “kak Sarah, tanganku belum sampai,” juga bunyi kakinya yang melompat-lompat, mungkin berusaha menggapai gagang pintu. Dengan malas Sarah membukakan pintu untuk Tika. “ Kak Sarah besok libur, kan? Aku mau hapus coretan itu, pakai ini” sambil memperlihatkan crayon warna putih kepada Sarah.
Sarah menjawab beberapa pertanyaan Tika dengan anggukan saja. Ia tidak mengajak Tika masuk ke kamarnya. Padahal biasanya kalo esok hari libur, malamnya sarah mengajak Tika tidur bersama. Hati Sarah jengkel.
“Oh iya, Kak. Kata Ibu, aku musti minta maaf sama kakak. Maaf ya, kak.”
“Ada lagi?” tanya Sarah ketus.
“Enggak. Yang mau hapus pelangi itu kakak,kan?! Crayon putih ini buat kakak Sarah saja,” jawab Tika polos.
Malam itu, meski masih kesal, Sarah bisa juga tidur pulas. Keesokan paginya, begitu membuka pinu kamar, ia terkejut melihat mang Udin, ayah Tika.
“Kesianagan ya, Non?” sapa mang Udin
Mang Udin menjelaskan maksud kedatangannya yang mendadak pagi itu. Ia ditelepon Mbak Sul, istrinya, untuk segera menjemput Tika. Menurut laporan Mbak Sul, Tika sekarang nakal, hingga membuat Sarah terganggu. Makanya Tika akan dibawa pulang kekampung saja.
Mang Udin minta maaf atas ulah Tika, yang masuk kamar tanpa ijin dan mencoret- coret dinding.
“Mang sudah bawa cat, yang warnanya sama dengan cat kamar Non Sarah. Mudah- mudahan corat- coret Tika tidak terlihat lagi,” jelas Mang Udin.
“Pak Tika bukan corat-coret kamar kak Sarah.Tika kan, bikin pelangi yang bagus buat kak Sarah. Tapi kata Ibu, kak Sarah enggak sukapelangi Tika,” Dengan polos Tika menunjukan coretannya yang belum sempat dibersihkan.
Sarah malu sekali. Ia baru sadar, kalo Tika sebenarnya berniat baik. Membuat lukisan pelangi untuknya. Namun karena ia masih kecil, lukisan itu belum sempurna sehingga lebih mirip corean coretan saja.
“Maafkan kak Sarah, ya Tika, Mang Udin. Biar saja pelangi itu menjadi hiasan kamarku, enggak usah dihapus. Dan Tika juga enggak usah plang kampung. Sekarang kakak sudah enggak marah lagi, kok!” seru Sarah gembira. “oh iya, satu bulan lagi kan kenaikan kelas. Anggap saja aku naik kelas, dan pelangi itu hadiah untukku dari kamu, Tika. Makasih ya.”
Ayah, Ibu, Mbak Sul,dan Mang Udin tertawa lega. Tika ikut– ikutan tertawa juga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar